Kamis, 05 Mei 2011

PENTINGNYA MANAJEMEN UNTUK BIAYA LINGKUNGAN

WRITTEN BY MARCOS TANU WIJAYA

Lingkungan merupakan salah satu bentuk yang juga dapat menjadi hal penting bagi perusahaan. Dimana lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan mahluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Sedangkan perusahaan adalah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa. Hal ini disebabkan karena ‘ kebutuhan ‘ manusia tidak bisa digunakan secara langsung dan harus melewati sebuah ‘ proses ‘ di suatu tempat, sehingga inti dari perusahaan ialah ‘ tempat melakukan proses ‘ sampai bisa langsung digunakan oleh manusia. Untuk menghasilkan barang siap konsumsi, perusahaan memerlukan bahan – bahan dan faktor pendukung lainnya, seperti bahan baku, bahan pembantu, peralatan dan tenaga kerja.Dimana kedua pengertian tersebut dapat dijadikan salah satu komponen yang menyatu dimana saling terkait antara perusahaan dan lingkungan itu sendiri. Dimana perusahaan untuk mengatur strateginya pun juga akan tetap mengutamakan beberapa factor lingkungan. Factor internal atau factor ekstern. Sehingga untuk melangsungkannya pun diperlukan biaya dan biaya ini perlu diatur agar tidak dapat merugikan bagi perusahaan itu sendiri, maka perusahaan perlu memanajemen biaya lingkungan.

 Seperti literature seperti ini:

Dimana Robert Artavia, presiden direktur Thamus, Inc., baru menerima hasil dari sebuah studi lingkungan. Studi tersebut mengenai pemasangan system pengolahan limbah cair (effluent) yang sangat penting. Effluent sendiri adalah aliran limbah cair. Pabrik terbesar Thamis berlokasi didekat sungai. Pabrik tersebut membuang limbah cairnya ke sungai dan jumlah yang dibuang telah melebihi tingkat yang di ijinkan oleh hukum. Limbah yang melewati ambang batas ini telah menurunkan kualitas air sungai pada tahap dimana  ada ikan yang mati. Pengaruh atas ikan tampak sangat membahayakan, tetapi hal yang lebih membahayakan lagi adalah fakta bahwa sungai tersebut adalah sumber daya yang penting bagi sebuah kota besar. Sungai itu adalah sumber air minum untuk lebih dari satu juta orang.

Hasil dari studi tersebut tidak terlalu baik. Walaupun system pengolahan yang diusulkan mengatsi masalah limbah cair, system tersebut adalah solusi yang sangat mahal. Manfaatnya kurang dari biayanya, diukur dalam nilai uang saat ini. Setelah penyelidikan lebih lanjut, Robert mendapati Akuntansi Pertanggungjawaban solusi yang diusulkan tersebut adalah alternative termurah yang bisa didapatkannya. Dia juga mendapati biaya dan manfaat yang ditentukan terlalu sempit. Denda yang dapat dihindari serta biaya pembangunan dan pengoperasian dari system tersebut adalah input utama. Kemungkinan biaya pembersihan dan hilangnya pendapatan karena reaksi masyarakat yang negative belum dimasukkan. Semua hal tersebut sulit diperkirakan. Selain itu, pengaruh negative atas kesehatan juga belum dimasukkan dalam analisis tersebut.

Setelah berpikir lebih lanjut lagi, Robert menulis sebuah memo untuk manajer lingkungannya dan pengontrolnya. Dalam memo tersebut, terdapat beberapa pertanyaan langsung dan tajam yang berkaitan dengan Thamus dan tanggung jawablingkungan perusahaan. Dimana pertanyaan tersebut adalah:
  • Apakah berbagai penyesuaian akan dibutuhkan untuk memperkirakan biaya pembersihan dan biaya yang berkaitan dengan pengaruh negative atas kesehatan?
  • Haruskah berbagai biaya ini diperkirakan oleh perusahaan yang bertanggung jawab secara social?
  • Apakah kita akan mendapatkan manfaat apapun (contohnya perbaikan image dan peningkatan penjualan) dengan memperhitungkan berbagai biaya ini ke dalam keputusan kita, kemudian mengiklankannya untuk keuntungan social?
  • Apa saja proses dan produk yang menjadi sumber dari limbah cair yang mengontorminasi lingkungan ini?
  • Berapakah biaya polusi yang berkaitan dengan tiap proses?
  • Apakah meniadakan suatu produk dari bauran produk kita mengatasi sebagian besar masalah? (apakah kemudian tidak akan dibutuhkan investasi untuk system pengolahan yang mahal)
  • Apa saja yang harus dilakukan perusahaan untuk dapat memiliki informasi biaya lingkungan yang terintegrasi dengan system akuntansi kita?
Oleh karena itu, seperti yang ada di literature diatas. Maka lingkungan juga dapat berpengaruh terhadap posisi keuangan juga. Hal ini juga menunjukkan perlunya informasi biaya lingkungan yang memadai. Pada kenyataannya, bagi banyak organisasi pengolahan biaya lingkungan menjadi prioritas utama dan minat yang intens. Sebenarnya terdapat beberapa alasan atas peningkatan minat tersebut, tetapi alasan utamanya ada dua, yaitu:
  1. Peraturan lingkungan di Negara-negara telah meningkat secara signifikat, bahkan diperkirakan akan semakin ketat.
  2. Keberhasilan penyelesaian masalah-masalah lingkungan menjadi isu yang semakin kompetitif.
Peningkatan biaya pemenuhan dan munculnya ekofisiensi telah memperkuat minat terhadap penghitungan biaya lingkungan. Ekoefisiensi berati pengurangan biaya dapat dicapai dengan meningkatkan kinerja lingkungan. Bahkan, bagi banyak perusahaan, biaya lingkungan merupakan persentase yang signifikan dari total biaya operasional. Ditambah dengan ekoefisiensi, fakta ini menekankan pentingnya pendefinisian, pengukuran, dan pelaporan biaya lingkungan.

Model Biaya Kualitas Lingkungan

Sebelum informasi manajemen biaya lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya lingkungan perlu didefinisikan. Dalam model kualitas lingkungan total, keadaannya yang ideal adalah tidak ada kerusakan lingkungan. Kerusakan didefinisikan sebagai degradasi langsung dari lingkungan.

Dengan demikian, menurut di dalam buku Hansen Mowen biaya lingkungan dapat disebut biaya kualitas lingkungan (environmental quality costs). Sama artinya dengan biaya kualitas, biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena kualitas lingkungan yang buruk atau kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Adapun akuntansi pertanggungjawaban akuntansi pertanggungjawaban menurut Garrisson (2001:20) adalah sebagai berikut : A system of accounting in which costs are assigned to various managerial level according to where control of the costs deemed to rest, with the managers then held responsibility for difference between and actual results

Jadi biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan dan penbiaya lingkungan cegahan degradasi lingkungan. Sehingga dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu:
  • Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs)
Biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan atau sampah yang dapat merusak lingkungan.
  • Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs)
Biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan bahwa produk, proses, dan aktivitas lain di perusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku umum atau tidak.
  • Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure costs)
Biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi tidak dibuang ke luar lingkungan.
  • Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure)
Biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan.

Tampilan table klasifikasi biaya lingkungan menurut aktivitas telah meringkas empat kategori biaya lingkungan dan menunjukkan daftar aktivitas khusus untuk setiap kategori. Pada kategori biaya kegagalan eksternal, biaya social diberi label S. biaya-biaya yang merupakan tanggung jawab perusahaan disebut biaya privat (private costs). (pengertian biaya private costs). Semua biaya tanpa label S adalah bukan biaya privat.
Aktivitas Pencegahan
Aktivitas kegagalan internal
·         Mengevaluasi dan memilih topik
·         Mengoperasikan peralatan pengendali polusi
·         Mengevaluasi dan memilih alat untuk mengendalikan polusi
·         Mengolah dan membuang sampah beracun
·         Mendesain proses
·         Memelihara peralatan polusi
·         Mendesain produk
·         Mendapatkan lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah
·         Melaksanakan studi lingkungan
·         Mendaur ulang sisa bahan
·         Mengaudit resiko lingkungan
Aktivitas kegagalan eksternal
·         Mengembangkan system manajemen lingkungan
·         Membersihkan danau yang tercemar
·         Mendaur ulang produk
·         Membersihkan minyak yang tumpah
·         Memperoleh sertifikat ISO
·         Membersihkan tanah yang tercemar
Aktivitas Deteksi
·         Menyelesaikan klaim kecelakaan pribadi
·         Mengaudit aktivitas lingkungan
·         Hilangnya penjualan karena reputasi lingkungan yang buruk
·         Memeriksa produk dan proses
·         Menggunakan bahan baku dan listrik secara tidak efisien
·         Mengembangkan ukuran kinerja lingkungan
·         Menerima perawatan medis karena polusi udara (S)
·         Menguji pencemaran
·         Hilangnya lapangan pekerjaan karena pencemaran (S)
·         Memvertifikasi kinerja lingkungan dari pemasok
·         Hilangnya manfaat danau sebagai tempat rekreasi (S)
·         Mengukur tingkat pencemaran
·         Rusaknya ekosistem karena pembuangan sampah padat (S)

Mengurangi Biaya Lingkungan

Bukti-bukti yang menunjukkan biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan lebih banyak lagi aktivitas pencegahan dan deteksi. Model pengurangan biaya lingkungan mungkin akan berperilaku serupa dengan model biaya kualitas total. Biaya lingkungan terendah yang diperoleh pada titik kerusakan nol mungkin sama seperti titik cacat nol pada model biaya kualitas total.  Ide yang mendasari pandangan “kerusakan nol” (zero-damage point) adalah mencegah lebih murah daripada mengobati. Peraturan ini menyatakan jika suatu masalah diselesaikan di area kerjanya sendiri, maka biayanya $1. Jika masalah diselesaikan diluar daerah asalnya sendiri tetapi masih di dalam perusahaan maka biayanya $10. Jika masalah diselesaikan di luar perusahaan, maka biayanya $100. Menurut peraturan ini, kerusakan nol adalah titik biaya terendah untuk biaya lingkungan. Konsep yang digunakan oleh Phillips Petroleum yang dikenal dengan peraturan 1-10-100.

Analisis Lingkungan

Penilaian dampak lingkungan dalam istilah operasional dan keuangan menetapkan tahap untuk langkah terakhir, yaitu mencari cara mengurangi dampak lingkungan dari alternative-alternatif yang dipertimbangkan atau dianalisis. Langkah inilah yang berhubungan dengan system pengendalian organisasi. Perbaikan kinerja lingkungan dari produk dan proses yang ada merupakan tujuan keseluruhan dari system pengendalian lingkungan.

Peran Manajemen Aktivitas Lingkungan

Analisis aktivitas lingkungan penting untuk system pengendalian lingkungan yang baik. Pengetahuan mengenai biaya lingkungan dan produk atau proses apa yang menyababkannya merupakan hal yang sangat penting sebagai langkah pertama untuk pengendalian. Selajutnya, aktivitas lingkungan harus diklasifikasikan sebagai bernilai tambah dan tidak bernilai tambah. Menurut Porter dan Van Der Linde menyatakan polusi lingkungan ekuivalen dengan ketidakefisienan ekonomi. Maka semua aktivitas yang gagal harus ditandai sebagai kegiatan tidak bernilai tambah. Oleh karena itu diperlukan peran seorang manajemen yang menangani aktivitas lingkungan .


Referensi:
Blair W. Felmate. “Making Sustainable Development a Corporate Reality”. Majalah CMA (Maret 1997): hal 9-16.
Hansen & Mowen. 2009. “Managerial Accounting- Akuntansi Manajerial”. Jakarta: Salemba Empat.
Hongren, Charles T, George Foster &  Srikant M Datar. 1995. Akuntansi Biaya Dengan Penekanan Manajerial. Edisi Indonesia. Buku dua, edisi kedelapan. Jakarta: Salemba Empat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar